OLAHRAGA SEPEDA

Sudah hampir pukul 16.00 wit. Sepertinya waktu yang cocok untuk berolahraga. apalagi cuaca Bintuni sangat mendukung. Setelah berpikir, olahraga apa enaknya sore-sore begini. Akhirnya kubuka gudang rumah. Ada sepeda lamaku yang sudah jarang kugunakan. Akhirnya aku berkeliling Bintuni dengan bersepeda. 
Ternyata capek juga bersepeda, apalagi setelah sekian lama tak bersepeda. Tetapi mengingat manfaat bersepeda yang baik bagi kesehatan, aku semangat untuk bersepeda. Mudah-mudahan aku bisa rutin bersepeda.

Setelah pencarian di Internet, kutemukan beberapa manfaat olahraga bersepeda yaitu: 

Dalam suatu penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 di Negara Jerman membuktikan bahwa seseorang yang melakukan olahraga bersepeda secara rutin dengan kecepatan 1-15 km/jam minimal satu jam setiap hari lebih kebal terhadap penyakit flu daripada orang yang tidak melakukan olahraga bersepeda, karena metabolisme tubuh orang yang bersepeda lebih terjaga dan staminanya juga lebih baik.

Nyeri pada bagian punggung umumnya diakibatkan lempengan disc pada tulang punggung kurang terlatih sehingga tulang punggung sulit untuk mendapat nutrisi yang cukup. Dengan bersepeda, maka lempengan itu akan bergerak dan terlatih kinerjanya.

Bersepeda dapat membuat tubuh menjadi berenergi dan menjaga bentuk tubuh. Hal ini dikarenakan ketika kita bersepeda, kita melakukan beberapa gerakan yang dapat membentuk, mengencangkan, dan menguatkan serta mengurangi lemak pada otot paha, betis, serta panggul.

Manfaat bersepeda selanjutnya adalah dapat mengurangi selulit pada paha. Bahkan gerakan bersepeda juga dapat menghilangkan stress di daerah lutut hingga pergelangan kaki seperti halnya ketika kita berjalan atau melakukan senam aerobik.

Bersepeda dapat memperlancar proses sirkulasi darah kaya oksigen serta nutrisi menuju seluruh bagian otot di seluruh tubuh.

Manfaat bersepeda selanjutnya adalah dapat menghindarkan kita dari berbagai serangan penyakit. Misalnya diabetes, sebab bersepeda dapat menghindarkan kita dari tekanan darah tinggi dan menurunkan berat badan.

Bersepeda dapat mengurangi stress dan menjaga kesehatan jantung.

Tetapi selain manfaat diatas, ada beberapa efek samping bersepeda yaitu:

Sepeda tidak dianjurkan bagi orang yang memiliki masalah dengan sendi dan juga nyeri rematik.

Bersepeda diketahui bisa mempengaruhi kualitas dari sperma laki-laki, berdasarkan penelitian diketahui bersepeda lebih dari 5 jam dalam satu minggu bisa membuat 31-40 persen laki-laki memiliki jumlah sperma di bawah normal.

Gerakan berulang yang dilakukan saat bersepeda bisa menyebabkan masalah pada lutut, hal ini terjadi jika ada peningkatan dalam intensitas, jarak yang terlalu cepat penggunaan sadel yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Jika suka menggunakan sepeda gunung maka cenderung berisiko mengalami masalah atau cedera tulang punggung, karena penggunaan sepeda gunung umumnya dilakukan dengan kecepatan tinggi dan jalur yang ekstrim.

Ada kemungkinan mengalami kesemutan penis akibat adanya iritasi pada batang penis karena menggunakan sadel yang terlalu lama dan disertai dengan suhu panas di sekitar penis saat mengayuh sepeda.

Untuk mendapatkan manfaat yang baik dari olahraga bersepeda, para pesepeda sebaiknya melengkapi dirinya dengan alat pelindung seperti helm dan juga masker, serta menghindari daerah-daerah yang ramai kendaraan bermotor untuk mengurangi paparan polusi.

POLISI JUGA MANUSIA.......


Dalam suatu siaran berita di beberapa siaran TV swasta di tanah air sempat membuat saya berpikiran miris akan kualitas siaran beritanya. Ini dikarenakan dalam siaran berita tersebut mengulas tentang “kebobrokan”(seperti dikutip dlm berita tsb) aparat penegak hukum khususnya polisi yang dikemas dalam satu “take” berita tersendiri.
Mengapa saya menjadi miris? Ini dikarenakan liputan tersebut hanya mengkhususkan berita tentang kekurangan yang terjadi di tubuh Polri yang semestinya menurut saya beberapa stasiun TV tersebut sebaiknya tidak hanya menyiarkan tentang “kebobrokan” aparat polisi saja tetapi juga “paling tidak” menyiarkan “frame” tersendiri tentang keberhasilan ataupun kemajuan dalam penegakan hukum oleh polisi sehingga terjadi azas keseimbangan dalam penyiaran berita kepada masyarakat.
Dampak yang kurang baik yang timbul dimasyarakat bila tidak adanya keseimbangan dalam penyiaran berita adalah timbulnya ketimpangan pemikiran yang terbentuk melalui opini yang terjadi melalui berita tersebut di mata masyarakat, dan secara tidak langsung membuat suatu pemikiran pada satu “sisi” saja, dalam hal ini.. bila yang dimunculkan hanya kekurangan yang terdapat pada tubuh polisi saja maka opini negatif terhadap polisi sebagai dampak dari terbentuknya opini negatif oleh masyarakat akan semakin meningkat dan ini hanya akan berdampak pada makin tingginya pemikiran negatif terhadap polisi yang secara tidak langsung akan terjadinya proses “viktimisasi” terhadap polisi dan bisa jadi “labelling” yang selama ini sudah dibentuk oleh masyarakat tidak akan pernah positif.
Sekiranya setiap stasiun televisi harus memperhatikan adanya azas keseimbangan dalam setiap pemberitaannya. Setiap orang tidak ada yang sempurna, Setiap instansi ataupun organisasi pasti punya kekurangan dan juga punya kelebihan. Saya pun berusaha untuk mengambil sikap positif yang timbul dari pemberitaan tersebut sebagai kontrol sosial yang harus ditindak lanjuti dan berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Polisi juga manusia..iya khan?


Sisi Kemanusiaan Polisi


Membaca tulisan seorang jurnalis berkaitan dengan seorang tokoh polisi, saya menjadi tergerak untuk mulai menulis. Saya terperangah ada seorang jurnalis yang masih melihat profesi lain dari sudut pandang nuansa kemanusiaan. Ini jarang terjadi, bahkan menjadi langka. Kebanyakan dari kita melihat orang lain dari sudut pandang kepentingan diri, bukan apa yang dirasakan orang lain jika mendapatkan perlakuan dari orang lain. Bahkan, cenderung penglihatan itu bersifat hitam-putih.


Pada konteks ini, profesi polisi yang sedang menjadi topik pembicaraan kita seantero Indonesia dan menghangat. Dari kasus Mesuji sampai Bima, terlepas dari kebenaran informasi yang ada menjadikan polisi seolah secara institusional maupun personal menjadi penanggung jawab utama peristiwa itu. Untuk beberapa hal mungkin benar, tetapi untuk banyak hal perlu dipertimbangkan kembali. Mari kita melihat polisi dari sisi lain, terutama sisi kemanusiaan, karena “polisi juga manusia”.

Melihat usia masuk ke jajaran kepolisian adalah mereka yang tamat Sekolah Menengah Atas, dan jika yang bersangkutan masuk ke Sekolah Kepolisian, berarti pada usia 22 tahun sudah berdinas, kemudian mengikuti pendidikan kekhususan sekitar usia 24 atau 25 tahun. Kemudian yang bersangkutan berdinas menghadapi garda depan di tengah masyarakat.


Pada usia ini, yang bersangkutan harus menghadapi gerakan-gerakan masyarakat yang terkadang memerlukan sikap ketenangan yang tinggi. Tidak semua mereka memiliki benteng ketahanan mental yang tebal, ada juga di antara mereka yang tipis, dan ini adalah manusiawi. Mereka harus berhadapan dengan gelombang unjuk rasa yang brutal, mereka harus tetap seperti tembok, tidak boleh bereaksi. Pertanyaan lanjut, adakah jaminan bagi mereka menyangkut keselamatan jiwa, ketenangan untuk tidak terpancing, sekalipun diludahi mukanya.


Belum lagi garis komando yang tidak ada kata lain kecuali kalimat "Siap Komandan!", itu yang boleh keluar dari mulut mereka. Bagaimana makna “siap” itu terserah nanti pelaksanaannya. Jika keadaan pada waktu mengucapkan itu dalam kondisi normal, persoalan tidak ada masalah.


Tetapi jika keadaan pada waktu itu sangat ekstrem, perhitungan matang harus dilakukan. Kalkulasi psikologis dengan kalkulasi rasio sering tidak jumbuh. Oleh sebab itu, strategi amat dituntut dalam hal ini. Persoalannya, kematangan strategi sering berbanding linier dengan usia. Tidaklah salah jika kesalahan melakukan strategi ini berakibat fatal pada polisi-polisi muda ini.


Oleh karena itu, kita harus memberikan penilaian berimbang kepada polisi muda dalam melaksanakan/menyelesaikan tugas, karena mereka harus menghadapi dua hal sekaligus. Pertama, menghadapi massa yang sering brutal tidak terkendali, bahkan dapat membahayakan jiwanya. Kedua, menghadapi gejolak emosi diri yang dipancing terus-menerus oleh massa dengan melakukan stimulus-stimulus destruktif, untuk tetap bertahan bagai Tembok China. Pertanyaannya, sejauh mana mereka tetap bertahan?


Di samping hal di atas, ada sejumlah faktor yang juga ikut menyumbang sebagai pemicu, pertama, faktor kelelahan fisik. Polisi muda sering memiliki jam kerja di lapangan 24 jam nonstop bahkan pada situasi tertentu bisa lebih. Pertanyaannya, apakah dengan jam kerja yang begitu panjang tidak terjadi penurunan kemampuan fisiologis? Jika hal ini terjadi, daya konsentrasi pun akan menurun.


Lebih lanjut mengakibatkan kemampuan mengambil keputusan dan tindakan akan terganggu. Terlepas mereka telah dilatih untuk itu, ambang batas kemampuan menahan kelelahan fisiologis perlu mendapat perhatian.


Kedua, faktor lain, maksudnya ialah adanya faktor di luar kontrol variabel, dan ini bersifat sangat individual.


Namun, tidak jarang variabel ini ikut memberi kontribusi yang besar. Contoh variabel ini ialah, pendapatan, masalah keluarga, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan pendapatan polisi muda ini, ada pihak-pihak tertentu yang sinis mengatakan banyak hormatnya daripada gajinya. Tentu hal seperti ini jangan sampai terjadi.


Uraian di atas masih sangat bersifat teoritis, jika dilihat aplikasinya, ternyata tidak sesederhana itu. Oleh sebab itu, perlu diberi apresiasi kepada polisi muda yang dalam melaksanakan tugas di daerah konflik tidak terpancing secara emosional. Perlu dipahami oleh kita semua bagaimana beratnya tugas polisi jika berhadapan dengan masyarakat yang tidak dewasa secara psikologis. Atau berhadapan dengan masyarakat yang secara budaya memiliki tipologi kekerasan.


Walaupun di Sekolah Kepolisian ada mata ajar berkaitan dengan budaya masyarakat, bukan jaminan polisi muda dapat menyerap apa yang diajarkan kemudian diterapkan secara praktis, mengingat sifat dinamis dari budaya itu sendiri yang mengalami perubahan begitu cepat.


Pada sisi lain yang juga perlu diperhatikan adalah “kebrutalan” masyarakat kita sekarang. Hampir di setiap unjuk rasa mereka melakukan tindakan-tindakan destruktif bahkan cenderung brutal. Kondisi yang demikian ini harus dihadapi para polisi muda dengan menahan perasaan bergejolak di dada, tetapi karena atas nama profesional, harus berjuang menahan diri sendiri, baik secara fisik maupun batin.


Pekerjaan yang tersisa adalah bagaimana secara terus-menerus lembaga-lembaga yang ada di masyarakat di samping memberi advokasi, tetapi jangan lupa juga memberi edukasi. Unjuk rasa tidak dilarang, tetapi bagaimana cara yang benar dalam berunjuk rasa, itu perlu disampaikan. Apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh, kemudian aturan atau prosedur yang harus dilalui sebelum berunjuk rasa juga perlu diberikan.


Mengutarakan pendapat itu sangat dibolehkan dalam negara demokrasi sekalipun pendapat itu berbeda. Akan tetapi, bagaimana cara menyampaikan pendapat, itu juga lebih penting. Maksud baik, tapi disampaikan dengan cara dan bahasa yang salah, hasilnya akan menjadi tidak baik. Apalagi jika maksudnya memang sudah jelek, disampaikan dengan cara jelek, hasilnya akan menjadi sangat jelek.


Repertoar demokrasi harus jalan, tetapi simponinya akan menjadi enak didengar jika semua pemain medengungkan alat musiknya sesuai dengan notasi penuntun yang ada di partitur. Polisi adalah organ demokrasi yang urgen, tapi polisi tetap manusia. Dia dapat saja berbuat salah, khilaf, dosa, pahala, dan apa pun namanya yang melekat sebagai manusia. Kita semua harus menyadari bagaimana beratnya tugas polisi dalam alam yang sedang belajar berdemokrasi. Perubahan yang begitu cepat dan drastis serta ekstrem itulah polisi ada di dalam pusarannya.

Sekali lagi sebagai manusia yang dikaruniai oleh Tuhan sebagai insan yang berpikir, adalah bijak jika kita memosisikan profesi apa pun, termasuk polisi, pada kedudukan yang dimensional kemanusiaan. Dengan cara itu, kita akan memiliki empati kepada semua insan yang tergelar di jagat raya ini.

Artikel ini saya sandur dari: lampungpost

Irjen Pol M Tito Karnavian, Kapolda Papua Baru


Potongan tubuhnya kecil, tapi jangan ragukan kemampuannya. Irjen Pol M Tito Karnavian, mantan Kepala Densus 88 Polri itu mendapat tugas baru. Dia akan menjadi kepala Kepolisian Daerah Papua, daerah yang rawan konflik. Mampukah dia menuntaskan berbagai kekerasan bermotif separatis di ujung timur Indonesia itu?

Berdasarkan Surat Telegram Rahasia (STR) Kapolri tertanggal 3 September 2012, Mabes Polri melakukan mutasi terhadap 58 perwira menengah dan tinggi. Selain jabatan Gubernur Akpol Irjen Djoko Susilo dan Wakakorlantas Polri Brigjen Didik Purnomo yang tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM, mutasi empat pimpinan kepolisian daerah juga menarik perhatian.

Salah satunya adalah pergantian Kapolda Papua Brigjen Bigman Lumban Tobing yang digeser menjadi Analis Kebijakan Utama Pembinaan Pendidikan dan Latihan (Bindiklat) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol). Posisi ini akan diisi oleh salah satu 'rising star' di tubuh Polri, Irjen Pol Tito Karnavian, mantan Kepala Densus 88 yang kini menjabat Deputi Penindakan dan Peningkatan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).

Jika dibandingkan kapolda-kapolda seluruh Indonesia, Tito Karnavian adalah kapolda termuda. Apalagi statusnya yang memimpin Polda Papua, wilayah yang dikategorikan tipe A, yang berarti tingkat gangguan keamanannya tinggi sehingga pejabat kapoldanya berpangkat inspektur jenderal alias bintang dua.

Tito Karnavian merupakan lulusan Akpol tahun 1987. Dia lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964. Di umurnya yang 47 tahun, di angkatannya, dialah yang pertama menembus level bintang dua. Dia mendapat kenaikan pangkat dari brigjen pada 22 Maret 2012 lalu.

Selepas Akpol, karier Tito lebih banyak dihabiskan di bagian reserse dan kemudian intelijen. Dia sempat mengenyam pendidikan di University of Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang police studies. Tito juga menyelesaikan pendidikan di Massey University Auckland di Selandia Baru tahun 1998 dalam bidang strategic studies, dan mengikuti pendidikan di Nanyang Technological University, Singapura, tahun 2008 sebagai kandidat PhD juga dalam bidang strategic studies.

Nama Tito mulai dikenal publik ketika tahun 2001, saat berhasil menangkap Tommy Soeharto yang menjadi buron dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Berpangkat komisaris ketika itu, dia memimpin sebuah tim yang selama berbulan-bulan mengejar Tomy. Atas keberhasilan tim tersebut menangkap Tommy, Kapolri Jenderal S Bimantoro menaikkan pangkat semua anggota tim. 

Jadilah Tito berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP). Umurnya baru 35 tahun ketika itu saat menjadi perwira termuda yang menyandang dua melati di pundaknya.

Tahun 2004, ketika saat Densus 88 Antiteror dibentuk oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani, Tito dipercaya menjadi perwira yang memimpin salah satu tim yang terdiri dari 75 personel.

Puncak prestasinya adalah mengungkap jaringan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Di bawah pimpinannya, Densus 88 Antiteror juga berhasil menangkap 19 dari 29 warga Poso yang masuk dalam DPO di Kecamatan Poso Kota, 2 Januari 2007. Tito dan sejumlah perwira Polri lainnya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang yang terlibat di balik konflik tersebut. Tito dan timnya juga berhasil melumpuhkan jaringan Noordin M Top dalam pengepungan teroris di Solo pada 17 September 2009 yang menewaskan empat orang.

Tito mencapai karier tertingginya di Densus 88 ketika memimpin detasemen itu sejak November 2009 menggantikan Brigjen Pol Saud Usman Nasution. Selang setahun, Tito digeser menjadi Deputi Penindakan dan Peningkatan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).

Dengan segudang pengalamannya di bidang intelijen dan penanganan terorisme, kepemimpinannya di Polda Papua akan menjadi salah satu pembuktian kemampuannya memimpin suatu wilayah. Jika sukses menangani masalah keamanan di Papua yang selama ini terus bergolak, Tito bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu kandidat kapolri di masa datang.

Apalagi dengan tersandungnya Irjen Djoko Susilo dan beberapa perwira senior yang awalnya diramalkan akan menjadi kandidat kapolri, Tito bisa menjadi kuda hitam bagi para seniornya.

Cara Memilih Nama Blog


Apalah arti sebuah nama, kutipan dari Shakespeare di Romeo and Juliet. Kebingungan dalam memilih nama blog bukan hal yang aneh saat kita akan membuat blog. Nah, saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang cara memilih nama blog yang bagus. Jika Anda punya keinginan untuk menjadikan blog terkenal, maka mulailah dengan memilih nama blog yang bagus.

Cara memilih nama blog yang bagus

  1. Nama blog harus dapat menggambarkan blog secara keseluruhan. Anda bisa bayangkan, hanya dengan membaca sebaris kata, pembaca bisa mengerti blog tersebut tentang apa. Potensi terbesar orang akan mengunjungi blog melalui search engine adalah dengan memperhatikan nama blog yang paling relevan dengan artikel yang dicarinya.
  2. Buatlah nama blog yang mudah diingat. Agar mudah diingat, buatlah nama blog yang pendek dan jangan pula terlalu panjang. Nama blog cukup satu kata saja atau dua kata. Jika terlalu panjang akan sulit untuk diingat. Contoh kasus dapat Anda lihat pada beberapa blog yang sudah terkenal di Indonesia. Mereka membuat nama blog yang sederhana namun sangat mudah diingat.
  3. Jangan terlalu banyak modifikasi ejaan. Perhatikan huruf, numerik dan penggunaan notasi-notasi yang tidak perlu. Jangan menggunakan kombinasi huruf dan angka yang membuat bingung pengunjung blog. Mungkin Anda pernah menemukan bog dengan nama yang ada kombinasi huruf, angka, simbol atau notasi-notasi tertentu. Wow, sangat kacau dan tidak baik bagi mesin cari seperti google. Tapi ini menurutku lo. Bukan bermaksud apa-apa.
  4. Nama blog harus sama dengan nama domain. Banyak saya temui nama domain blog yang sangat berbeda dengan nama blog. Kelihatannya saja sepele, namun nama domain yang sama dengan nama blog akan sangat berarti dalam optimasi mesin cari. Nama blog bisa saja berbeda dengan domain blog namun usahakan masih mirip dan mendekati.
  5. Nama blog harus unik. Misalnya membuat nama blog seperti judul film atau hal-hal yang kontroversial. Saya yakin keunikan ini akan menjadi satu daya tarik tertentu bagi pengunjung. Unik bisa juga berupa nama yang lucu atau seram dan mengerikan. Terserah saja, pokoknya beda dari yang lain.
  6. Sisipkan keyword pada nama blog yang menjadi keyword pencarian blog Anda. Tips ini sangat bermanfaat bagi blog yang menargetkan pasar tertentu. Apalagi blog bisnis, maka penyisipan keyword pada nama blog sangat penting. Tujuannya adalah mengpotimalkan search engine pencarian blog Anda melaui keyword tertentu yang sudah Anda targetkan.
  7. Nama blog jangan terlalu umum dan jangan pula terlalu menargetkan niche tertentu. Ada untung dan ruginya jika memilih nama yang terlalu umum. Anda akan sangat mudah mencari konten berita untuk blog jika blog Anda memilih topik yang umum namun tidak fokus pada topik tertentu akan membuat pengunjung tidak betah berada di blog Anda. Memilih nama blog dengan topik yang lebih khusus akan lebih baik, namun akan perlu dipertimbangkan siapa yang menjadi target pembaca blog tersebut. Jangan pula nantinya pembaca blog kita malah hanya sedikit karena topik yang terlalu sempit. Anda dapat menggunakan layanan google trend untuk menganalisa nama blog yang akan anda pilih.

Masih banyak cara memilih nama blog yang bagus. Cara tersebut tidak mutlak harus demikian dan Anda bisa pilih mana yang cocok dan sesuai dengan tipe dan karakter blog Anda. Jika Anda punya pendapat lain yang bisa dibagikan, saya sangat berterimakasih. Salam hangat dan happy blogging for all.

1 Juli 1946

Hai! Apa kabar rekan-rekan semua?

Kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai makna 1 Juli 1946 bagi Polisi.

Setiap tanggal 1 Juli, banyak sekali yang mengucapkan, "Selamat ulang tahun pak polici…"

Nah loh!

Kalau ulang tahun itu 'kan artinya sebelum tanggal 1 Juli 1946 Polisi belum ada?
Padahal sosok Polisi sudah ada sejak jaman kerajaan. Polisi jaman kerajaan diistilahkan dengan Jogoboyo atau Bhayangkari, penjaga dari segala marabahaya yang mengancam kerajaan.

Naaaaahhh…

Sekarang ijinkan saya meluruskan, sebenarnya apa yang terjadi pada tanggal 1 Juli 1946.

Jadi begini nih urutan ceritanya…
Tanggal 17 Agustus 1945, bung Karno dengan nyali naga memproklamirkan KEMERDEKAAN bangsa ini di tengah-tengah situasi yang sebenarnya belum kondusif benar untuk merdeka. 

Tanggal 18 Agustus 1945, bangsa Indonesia memiliki Undang-undang Dasar. 

Pada tanggal 19 Agustus 1945 dalam sidang PPKI menyatakan bahwa, Polisi ditarik ke dalam Kementrian Dalam Negeri, membentuk suatu dinas tersendiri. Dikatakan bahwa Polisi hanya bekerja dalam hal "administrasi" saja, dan tidak mempunyai "rentang komando" ke polisi-polisi di daerah. Polisi di daerah di bawah kendali pemerintah propinsi dan pemerintah daerah (seperti Sat Pol PP saat ini).

Tanggal 29 September 1945 Jenderal Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo dilantik sebagai sebagai KKN (Kepala Kepolisian Negara) pertama, dan diberi tugas untuk membentuk organisasi polisi, menyesuaikan struktur pemerintahan Indonesia yang baru lahir.

Pada tanggal 1 Oktober 1945 polisi ditarik juga di bawah Kejaksaan Agung juga, mengingat polisi adalah salah satu elemen CJS (Criminal Justice System).

Namun hal ini tidak bertahan lama, pak Soekanto sangat kewalahan menerapkan kebijakan kepolisian secara nasional sampai ke polisi di pelosok Indonesia, mengingat tidak dimilikinya rentang komando ke wilayah. Oleh karena itu, pemerintah memahami ini akhirnya pada tanggal 1 Juli 1946, Polisi dikeluarkan dari Kementrian Dalam Negeri, membentuk jawatan sendiri, langsung di bawah Perdana Menteri (Keputusan Perdana Menteri No. 86/P.M./II, tanggal 29 Juni 1945).

Pada tanggal 1 Juli 1946 inilah akhirnya Polisi bisa bernafas bebas, dia bisa membentuk karakternya sendiri. Organisasi Kepolisian setara dengan Kementrian, dan KKN/Kapolri setara dengan Menteri. Dengan memiliki jawatan sendiri, organisasi Kepolisian memiliki rentang komando ke bawah secara nasional. 

Rentang komando itu artinya begini… Saat Kapolri membuat kebijakan, "Fokus kerja kita kali ini adalah mengamankan masyarakat yang akan melakukan Mudik dan kembali ke domisili awal! Tekan angka kecelakaan lalu lintas! Kita beri nama operasi ini dengan sandi Operasi Ketupat!" Maka Mabes Polri akan menggelindingkan kebijakan tersebut ke 33 Polda di seluruh Indonesia, dan diteruskan kepada masing-masing Polres jajarannya, dan sampai kepada tingkat Polsek, unit ujung tombak kepolisian. Akhirnya pekerjaan polisi menjadi seragam di seluruh Republik Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, mengamankan arus mudik dan arus balik saat hari raya Idul Fitri.

Andaikata polisi masih di bawah kementrian dalam negeri, dan polisi di wilayah di bawah pemerintah kota/kabupaten, maka ada kemungkinan polisi di Polres x akan menjawab kepada Kapolri, "Ntar dulu bos… Di sini pak Bupatinya  lagi fokus dengan masalah PSK sama Pedagang Kaki Lima… Sabar yah bos…"  Kapolri'pun gak bisa ngomong apa-apa, mengingat jika Polri di bawah kementrian dalam negeri, kerjanya hanya "administratif".

Selain itu juga, tekanan politis yang berada di dalam kementrian/departemen bisa dijauhkan dari Polisi, sebab Polisi di belahan dunia manapun dituntut untuk netral, karena dia berada di tengah-tengah, di antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat alias selalu dalam posisi kejepits, seperti saat ini.

Begitulah sejarah singkat, mengapa tanggal 1 Juli 1946 menjadi bersejarah bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jadi ucapan ulang tahun atau dirgahayu menurut saya kurang tepat, yang tepat adalah cukup "Selamat Hari Bhayangkara".


Jangan kaget kalau praktek di lapangan, Polisi sendiripun masih latah menggunakan kata HUT di spanduk, atau kata-kata sambutannya, karena belum semua Polisi tahu akan sejarahnya. Saya bisa paham masalah ini, sebab……..… tanggal 5 Juli kemarin, saya baru saja ujian Sejarah Kepolisian.. Hahahahaha…:-D

Semoga bermanfaat yah rekan-rekan…






SUMBER: disandur dari berbagai sumber

KUSNI KASDUT, PENJAHAT LEGENDARIS INDONESIA


Siapa yang tidak mengenal tokoh ini pada era 70 an, salah satu pejahat Legendaris, tertangkap dan di vonis hukuman mati atas segala perbuatannya…. Namun pada saat – saat akhir hayat nya ia bertobat dan dengan “tegar” menghadapi hukumannya.
Dalam keterasingannya di penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintai, ternyata sisi agamis Kusni Kasdut tumbuh semakin dalam. Apalagi ketika dia di penjara dan sebelum dieksekusi mati, dia sempat berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik.
Setelah berkenalan dengan pemuka agama tersebut, akhirnya dia memutuskan menjadi pengikut setia. Kusni Kasdut dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.
Saat menunggu hari eksekusi, dia menuangkan rasa cintanya terhadap agama yang telah dia anut dalam sebuah lukisan yang terbuat dari gedebog pohon pisang. Dalam lukisan tersebut, tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gerja Katederal Jakarta.
lukisan Kusni Kasdut yang terbuat dari gedebok Pisang, dan masih tersimpan di Kathederal Jakarta
lukisan Kusni Kasdut yang terbuat dari gedebok Pisang, dan masih tersimpan di Kathederal Jakarta
“Setelah lukisan gedebog pisang itu jadi, sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral, Jakarta. Beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati,” ujar pengurus Museum Katedral, Jakarta, Eduardus Suwito.
Saya mendapat tulisan mengenai saat – saat akhir hayatnya pada saat mau menghadapi regu tembak :
Keinginannya terakhir hanya ia mau duduk di tengah keluarganya.
Itu terpenuhi. Sembilan jam sebelum diantar pergi oleh tim
eksekutor, di ruang kebaktian Katolik di LP Kalisosok Kusni
Kasdut dikelilingi keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik
dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami
Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuannya yang
terakhir-dengan capcai, mi dan ayam goreng. Tapi rupanya hanya
orang yang menjelang mati itu yang dengan nikmat makan.
Kusni, kemudian, memeluk Ninik. “Saya sebenarnya sudah tobat
total sejak 1976,” katanya, seperti direkam seorang
pendengarnya. “Situasilah yang membuat ayah jadi begini.
Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada
Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek. Ninik dan yang lain
menangis. “Diamlah,” lanjut ayahnya, “Ninik ‘kan sudah tahu,
ayah sudah pasrah. Ayah yakin Tuhan sudah menyediakan tempat
bagi ayah. Maafkanlah ayah.” Kedua cucunya, Eka dan Vera, mulai
mengantuk.
Fact about Kusni Kasdut
Pada masanya Kusni kasdut adalah penjahat spesialis “barang antik” salah satunya yang paling spektakuler ia merampok Museum Nasional Jakarta. Dengan menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi (yang tentunya palsu), dia pada tanggal 31 Mei 1961 masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah. Setelah melukai penjaga dia membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.
Pernah membunuh dan merampok seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened pada 1960-an. Kusni Kasdut dalam aksinya ditemani oleh Bir Ali. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan, Awab Alhajiri. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembak dari jeep yang dibawa oleh Kusni Kasdut.
Saat-saat terakhir Kusni Kasdut ini dijadikan ide untuk lagunya God Bless “Selamat Pagi Indonesia” di album “Cermin”. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas yg jagoan menulis lirik lagu.
Awalnya Kusni kasdut adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
SUDARTO adalah penasehat hukum Kusni Kasdut mengatakan dalam pembelaanya : ”Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang,” dan ”Nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman”.
Kusni Kasdut pada saat sedang menunggu keputusan atas permohonan grasinya sempat melarikan diri kemudian dapat ditangkap kembali dan akhirnya menjalankan pidana matinya.
Kusni Kasdut sempat dijuluki “Robin Hood” Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi – bagikan kepada kaum miskin.
Tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil (sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan). Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir, ia tewas dalam tembak menembak dengan polisi.
Ia menjalani hukuman matinya didepan regu tembak pada 16 Februari 1980.
Sumber : dari berbagai sumber

SKENARIO PEMERDEKAAN PAPUA


Melihat peristiwa yang marak terjadi di Papua beberapa waktu belakangan ini, sungguh miris terjadi penembakan gelap dimana – mana, awalnya yang menjadi sasaran adalah para karyawan PT Freeport Timika yang hendak berangkat bekerja, kemudian penembakan ini merambah ke sasaran yang berada di kota jayapura dan sorong, dimana 4 orang tewas ditembak yaitu 3 warga dan 1 personil TNI di Abepura Jayapura dan yang paling heboh di dunia Internasional adalah penembakan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal di lokasi wisata Pantai Base kota Jayapura dengan korban Pieter Dietmar Helmut warganegara Jerman. Saya duga masih akan masih banyak lagi aksi – aksi pengacauan keamanan setelah ini dan ekskalasinya pasti akan meningkat.
Yes, apa yang terjadi di Papua adalah skenario yang mengarah kepada “pemerdekaan”, skenario ini adalah memang dirancang, direkayasa untuk internasionalisasi masalah papua sebagai tahap awal untuk memerdekakan papua. Sebagai mantan peacekeeper di beberapa negara yang wilayahnya ingin merdeka, saya rasanya tahu bagaimana cara – cara mereka untuk membawa sebuah negara ke arah merdeka.
Patut diketahui bahwa cara – cara mengganti pemerintahan otoriter yang terjadi di beberapa negara jazirah arab berbeda dengan cara sebuah daerah memerdekakan diri, isyu paling fundamental adalah bagi daerah yang mau merdeka adalah perbedaan etnis atau kaum minoritas yang tidak diperlakukan adil oleh pemerintah pusat, berbeda dengan pemberontakan yang mau mengganti pemerintah; adalah rakyat mempunyai “common enemy” makanya mereka menggulingkan pemerintah dengan “people power”.
Saat ini beberapa hotspot dimana sebagian warganya meninta merdeka adalah:  Gerakan Basque di Perancis, Kaum tamil di Srilangka, Darfur di Sudan. Beberapa daerah telah berhasil perjuangannya dan menjadi negara baru seperti Kosovo dan Sudan Selatan. Indonesia sendiri pernah mengalami pisahnya Timor timur menjadi negara sendiri.
Berikut ini adalah perkiraan saya (pribadi) tentang beberapa metoda / skenario yang akan digunakan Organisasi Papua Merdeka dalam memperjuangkan kemerdekaannya:
1. Gerakan ini akan mengintensifkan “teror” khususnya bagi pendatang non papua, “penembakan gelap” akan digiatkan, mereka ingin agar ada rasa tidak aman pada kehidupan sehari – hari masyarakat papua, keadaan tidak aman ini akan melumpuhkan aspek penghidupan masyarakat papua, terutama pada perekonomian dan roda pemerintahan, kalau dua aspek ini tidak berjalan akan ada ketidak – percayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat keamanan. Sehingga masyarakat akan mendapat kesan bahwa OPM akan lebihcare terhadap mereka dalam menjamin keamanan.
2. Mencoba meng-internasionalisasi permasalahan di Papua,  gerakan OPM akan secara taktis membawa permasalahan ini ke dunia internasional, dengan era “keterbukaan informasi”  sekarang ini akan mudah bagi mereka untuk mengangkat isu internal dalam negeri menjadi isu internasional, yang paling laku dijual adalah isu Human Rights/HAM, Genosida,  ketidakadilan dan kejahatan terhadap kemanusiaan.  Cara yang bisa  dicapai adalah dengan “mengorbankan” penduduk asli papua sendiri, gerakan ini akan “membenturkan” masyarakat dengan aparat keamanan, contoh pada saat demonstrasi massa mereka akan berbuat sesuatu sehingga terjadi bentrokan massa dengan aparat keamanan, sehingga jatuh korban massa, nah hal inilah yang bisa “dipelintir” dan diangkat ke dunia internasional bahwa terjadi “pembantaian etnis”, ini bisa mencoreng Indonesia sebagai negara yang tidak melindungi warganya. Penembakan terhadap warga negara asing juga bisa membawa hal ini ke dunia Internasional, sebelumnya sudah ada WN. Australia dan AS yang tewas di papua akibat penembakan gelap.
3.  Melakukan kampanye Internasional,  seperti diketahui pola perjuangan OPM ada 2 lini yaitu lini dalam negeri dan luar negeri,  di dalam negeri terdiri dari sayap politik dan Militer, mereka menggunakan cara – cara Clandestin atau “Underground” , mereka menyusupkan agen – agen mereka kedalam pemerintahan dan merekrut orang  – orang yang pro OPM untuk menguntungkan gerakan mereka.  Untuk gerakan di luar negeri mereka menggunakan tokoh mereka di luar negeri untuk mengkampanyekan gerakan mereka, kebetulan mereka ada seorang tokoh OPM yang berhasil lari dari Indonesia bernama Benny Wenda, permintaan suakanya sudah diterima oleh pemerintah Inggris, sehingga ia menjadi WN. Inggris. Benny Wenda sampai sekarang masih tercatat dalam daftar “Red Notice” Interpol karena peristiwa pembunuhan di Papua. Ia lah menjadi corong dari gerakan OPM di luar negeri. Upaya yang dilakukan adalah mendekati parlemen internasional, khususnya di negara eropa untuk mendukung perjuangan OPM.
Dari ketiga upaya ini akan mengerucut menjadi satu, seperti yang pernah kita alami di Timor Leste, yaitu adanya Desakan dari dunia Internasional agar ada “Campur tangan” negara di luar Indonesia untuk pada awalnya “Menyelesaikan” Permasalahan yang terjadi PBB akan turut campur dan pada awalnya akan mengirimkan “Observer” untuk melihat ke wilayah apa yang terjadi sesungguhnya.  Hal ini akan sangat berbahaya karena rekomendasi observer ini adalah pasti kehadiran “Misi Perdamaian” untuk melihat aspirasi warga papua, dan hasilnya mudah ditebak , pasti Referendum menentukan nasib sendiri. Yang hasilnya pasti sudah tau kan ? pasti  hasilnya merdeka.
Jadi bagaimana agar kita tidak kehilangan kedua kalinya wilayah kita setelah Timor Leste ? ini pendapat saya:
1.  Untuk  zaman sekarang dimana kebebasan media sudah sangat terbuka, kita tidak perlu mencegah kampanye buruk dari pihak OPM tentang apa yang disebut “Kolonialisme” Indonesia atas Papua, justru kita harus melakukan kampanye positif tentang apa yang telah kita lakukan di bumi Papua.
2.  Kesejahteraan , ya itu kata kuncinya.  Sejahterakan masyarakat papua, buat pendidikan yang baik dan dengan mereka sejahtera mereka akan merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia. Biarkan rakyat papua mempunyai kedaulatan di wilayahnya sendiri.
3. Rangkul kembali pihak OPM untuk menjadi bagian bersama dalam pembangunan di Papua. Tidak semua warga papua hendak memerdekakan diri.  Masyarakat papua lebih bersifat kesukuan jadi tidak ada yang lebih dominan dari yang lain.
4. Untuk aparat keamanan kurangi kekerasan yang tidak perlu, karena ini merupakan alat OPM untuk mengangkat permasalahan ini ke dunia Internasional.
Demikian akhir tulisan saya, saya rasa kita pernah punya contoh bagaimana kasus Timor Leste dan Aceh, gunakan cara – cara seperti di Aceh adalah cara terbaik untuk dilakukan yaitu penyelesaian tetapi tetap dalam kerangka NKRI, bagaimana caranya ? silahkan para pimpinan negara ini memikirkan jalan yang terbaik.

nilai proyek ekspansi train 3 Tangguh, yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, mencapai 12 miliar dollar AS


Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi mencatat, nilai proyek ekspansi train 3 Tangguh, yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, mencapai 12 miliar dollar AS.Untuk itu ini BP Indonesia selaku operator proyek Tangguh berencana mengajukan revisi rencana pengembangan kepada badan pelaksana tersebut pada Agustus ini. Demikian disampaikan Deputi Pengendali Operasi BP Migas Gde Pradnyana, Kamis (2/8/2012), saat ditemui di Kantor BP Migas, Jakarta.

Menurut Gde Pradnyana, pucuk pimpinan BP menegaskan kembali komitmennya untuk berinvestasi dalam proyek ekspansi train 3 Tangguh. Hal itu dikemukakan saat bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik dan jajarannya dalam kunjungan kerja Menteri ESDM ke Perancis dan Inggris. Dalam pertemuan itu, Jero Wacik menekankan, para investor asing harus memenuhi beberapa syarat jika ingin berinvestasi di Indonesia, antara lain "pro job, pro poor, pro growth, dan pro environment".

Jadi, para investor harus membuka lapangan kerja baru, turut mengentaskan kemiskinan, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan mengendepankan aspek kelestarian lingkungan dalam pengelolaan migas di Tanah Air.

Gde Pradnyana mengemukakan, BP Indonesia berencana mengeluarkan investasi sekitar 12 miliar dollar AS untuk pembangunan proyek train 3 Tangguh, meliputi pembangunan konstruksi train (unit kilang) 3, anjungan, dan jaringan pipa gas.

"Mereka berjanji akan mengajukan revisi rencana pengembangan proyek Tangguh pada minggu ini," ujarnya. Dalam paket pengembangan proyek itu, lanjut Gde, pihaknya meminta jaminan pengembangan di kawasan Bintuni.

Jadi, selain komitmen investasi dalam proyek train 3 itu, BP Indonesia harus berkomitmen untuk ikut mengembangkan kawasan Teluk Bintuni dan Papua Barat, baik berupa penambahan pasokan gas maupun tenaga listrik.

"Itu merupakan aspirasi dari pemda. Kami akan segera memproses revisi rencana pengembangan itu begitu disampaikan kepada kami. Proses kajiannya paling lama satu bulan, Jadi kami menargetkan proyek ekspansi train 3 Tangguh itu bisa mulai dikerjakan tahun 2013," ujarnya.

Sumber: kompas.com

Kapolda kesulitan untuk menjamin tidak terulangnya kembali konflik di Kwamki Lama, Mimika, Papua

Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Polisi BL Tobing mengakui, polisi saat ini mengalami kesulitan untuk menjamin tidak terulangnya kembali konflik di Kwamki Lama, Kabupaten Mimika, Papua.

"Polri mengalami kesulitan untuk bisa menjamin tidak terulangnya pertikaian atau konflik yang terjadi di kawasan Kwamki Lama karena apa yang mereka katakan berbeda dengan kenyataan," kata Kapolda Papua menjawab pertanyaan seusai buka puasa bersama di Mapolda Papua, di Jayapura, Rabu (1/8).

Karena itulah, ia menambahkan, berapa pun banyak pasukan ditempatkan tidak dapat menjamin tidak terjadinya konflik yang sudah menewaskan warga dari kedua kelompok yang bertikai serta melukai ratusan orang tersebut.

Menurut dia, seharusnya situasi itu disikapi secara serius oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sebab, mereka yang bertikai itu bukan penduduk asli Kwamki Lama, melainkan pengungsi dari Kabupaten Puncak.

"Polisi saat ini hanya menjadi pemadam kebakaran. Saya berharap kasus tersebut segera ditangani oleh semua pihak," katanya.

Wakil Bupati Mimika Abdul Muis sebelumnya mengakui, pihaknya pun kesulitan menghadapi para warga yang merupakan pengungsi dari Kabupaten Puncak, karena apa yang mereka lakukan sudah meresahkan.

"Kami sangat berharap Pemkab Puncak segera memulangkan warganya yang mengungsi di Kwamki Lama, sehingga tidak meresahkan warga lainnya," kata Muis.

Pemda Mimika sudah berupaya mendamaikan kedua kelompok yakni Kampung Harapan (atas) dan Kampung Amole (bawah) dengan melakukan prosesi adat, yakni patah panah yang disertai bakar batu. Bahkan, prosesi itu sudah berlangsung dua kali, namun konflik masih terulang kembali hingga kini.

Kasus pertikaian yang terjadi sejak 23 Mei lalu itu berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan warga Kampung Harapan, hingga mereka menuntut dan bahkan mengajak perang Kampung Amole.(Ant/BEY)

Sumber: www.metrotvnews.com