POLISI JUGA MANUSIA.......
Posted by Unknown
Posted on 21.28
with No comments
Dalam suatu siaran berita di beberapa siaran TV swasta di tanah air sempat membuat saya berpikiran miris akan kualitas siaran beritanya. Ini dikarenakan dalam siaran berita tersebut mengulas tentang “kebobrokan”(seperti dikutip dlm berita tsb) aparat penegak hukum khususnya polisi yang dikemas dalam satu “take” berita tersendiri.
Mengapa
saya menjadi miris? Ini dikarenakan liputan tersebut hanya
mengkhususkan berita tentang kekurangan yang terjadi di tubuh Polri yang
semestinya menurut saya beberapa stasiun TV tersebut sebaiknya tidak
hanya menyiarkan tentang “kebobrokan” aparat polisi saja tetapi juga
“paling tidak” menyiarkan “frame” tersendiri tentang keberhasilan
ataupun kemajuan dalam penegakan hukum oleh polisi sehingga terjadi azas
keseimbangan dalam penyiaran berita kepada masyarakat.
Dampak
yang kurang baik yang timbul dimasyarakat bila tidak adanya
keseimbangan dalam penyiaran berita adalah timbulnya ketimpangan
pemikiran yang terbentuk melalui opini yang terjadi melalui berita
tersebut di mata masyarakat, dan secara tidak langsung membuat suatu
pemikiran pada satu “sisi” saja, dalam hal ini.. bila yang dimunculkan
hanya kekurangan yang terdapat pada tubuh polisi saja maka opini negatif
terhadap polisi sebagai dampak dari terbentuknya opini negatif oleh
masyarakat akan semakin meningkat dan ini hanya akan berdampak pada
makin tingginya pemikiran negatif terhadap polisi yang secara tidak
langsung akan terjadinya proses “viktimisasi” terhadap polisi dan bisa
jadi “labelling” yang selama ini sudah dibentuk oleh masyarakat tidak
akan pernah positif.
Sekiranya setiap stasiun televisi harus memperhatikan adanya azas keseimbangan dalam setiap pemberitaannya. Setiap orang tidak ada yang sempurna, Setiap instansi ataupun organisasi pasti punya kekurangan dan juga punya kelebihan. Saya pun berusaha untuk mengambil sikap positif yang timbul dari pemberitaan tersebut sebagai kontrol sosial yang harus ditindak lanjuti dan berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Polisi juga manusia..iya khan?
Sisi Kemanusiaan Polisi
Posted by Unknown
Posted on 19.21
with No comments
Membaca tulisan seorang jurnalis berkaitan dengan seorang
tokoh polisi, saya menjadi tergerak untuk mulai menulis. Saya terperangah ada seorang jurnalis yang masih melihat profesi
lain dari sudut pandang nuansa kemanusiaan. Ini jarang terjadi, bahkan
menjadi langka. Kebanyakan dari kita melihat orang lain dari sudut
pandang kepentingan diri, bukan apa yang dirasakan orang lain jika
mendapatkan perlakuan dari orang lain. Bahkan, cenderung penglihatan itu
bersifat hitam-putih.
Pada
konteks ini, profesi polisi yang sedang menjadi topik pembicaraan kita
seantero Indonesia dan menghangat. Dari kasus Mesuji sampai Bima,
terlepas dari kebenaran informasi yang ada menjadikan polisi seolah
secara institusional maupun personal menjadi penanggung jawab utama
peristiwa itu. Untuk beberapa hal mungkin benar, tetapi untuk banyak hal
perlu dipertimbangkan kembali. Mari kita melihat polisi dari sisi lain,
terutama sisi kemanusiaan, karena “polisi juga manusia”.
Melihat usia masuk ke jajaran kepolisian adalah mereka yang tamat Sekolah Menengah Atas, dan jika yang bersangkutan masuk ke Sekolah Kepolisian, berarti pada usia 22 tahun sudah berdinas, kemudian mengikuti pendidikan kekhususan sekitar usia 24 atau 25 tahun. Kemudian yang bersangkutan berdinas menghadapi garda depan di tengah masyarakat.
Pada
usia ini, yang bersangkutan harus menghadapi gerakan-gerakan masyarakat
yang terkadang memerlukan sikap ketenangan yang tinggi. Tidak semua
mereka memiliki benteng ketahanan mental yang tebal, ada juga di antara
mereka yang tipis, dan ini adalah manusiawi. Mereka harus berhadapan
dengan gelombang unjuk rasa yang brutal, mereka harus tetap seperti
tembok, tidak boleh bereaksi. Pertanyaan lanjut, adakah jaminan bagi
mereka menyangkut keselamatan jiwa, ketenangan untuk tidak terpancing,
sekalipun diludahi mukanya.
Belum
lagi garis komando yang tidak ada kata lain kecuali kalimat "Siap
Komandan!", itu yang boleh keluar dari mulut mereka. Bagaimana makna
“siap” itu terserah nanti pelaksanaannya. Jika keadaan pada waktu
mengucapkan itu dalam kondisi normal, persoalan tidak ada masalah.
Tetapi
jika keadaan pada waktu itu sangat ekstrem, perhitungan matang harus
dilakukan. Kalkulasi psikologis dengan kalkulasi rasio sering tidak
jumbuh. Oleh sebab itu, strategi amat dituntut dalam hal ini.
Persoalannya, kematangan strategi sering berbanding linier dengan usia.
Tidaklah salah jika kesalahan melakukan strategi ini berakibat fatal
pada polisi-polisi muda ini.
Oleh
karena itu, kita harus memberikan penilaian berimbang kepada polisi muda
dalam melaksanakan/menyelesaikan tugas, karena mereka harus menghadapi
dua hal sekaligus. Pertama, menghadapi massa yang sering brutal tidak
terkendali, bahkan dapat membahayakan jiwanya. Kedua, menghadapi gejolak
emosi diri yang dipancing terus-menerus oleh massa dengan melakukan
stimulus-stimulus destruktif, untuk tetap bertahan bagai Tembok China.
Pertanyaannya, sejauh mana mereka tetap bertahan?
Di
samping hal di atas, ada sejumlah faktor yang juga ikut menyumbang
sebagai pemicu, pertama, faktor kelelahan fisik. Polisi muda sering
memiliki jam kerja di lapangan 24 jam nonstop bahkan pada situasi
tertentu bisa lebih. Pertanyaannya, apakah dengan jam kerja yang begitu
panjang tidak terjadi penurunan kemampuan fisiologis? Jika hal ini
terjadi, daya konsentrasi pun akan menurun.
Lebih
lanjut mengakibatkan kemampuan mengambil keputusan dan tindakan akan
terganggu. Terlepas mereka telah dilatih untuk itu, ambang batas
kemampuan menahan kelelahan fisiologis perlu mendapat perhatian.
Kedua, faktor lain, maksudnya ialah adanya faktor di luar kontrol variabel, dan ini bersifat sangat individual.
Namun,
tidak jarang variabel ini ikut memberi kontribusi yang besar. Contoh
variabel ini ialah, pendapatan, masalah keluarga, dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan pendapatan polisi muda ini, ada pihak-pihak tertentu
yang sinis mengatakan banyak hormatnya daripada gajinya. Tentu hal
seperti ini jangan sampai terjadi.
Uraian
di atas masih sangat bersifat teoritis, jika dilihat aplikasinya,
ternyata tidak sesederhana itu. Oleh sebab itu, perlu diberi apresiasi
kepada polisi muda yang dalam melaksanakan tugas di daerah konflik tidak
terpancing secara emosional. Perlu dipahami oleh kita semua bagaimana
beratnya tugas polisi jika berhadapan dengan masyarakat yang tidak
dewasa secara psikologis. Atau berhadapan dengan masyarakat yang secara
budaya memiliki tipologi kekerasan.
Walaupun
di Sekolah Kepolisian ada mata ajar berkaitan dengan budaya masyarakat,
bukan jaminan polisi muda dapat menyerap apa yang diajarkan kemudian
diterapkan secara praktis, mengingat sifat dinamis dari budaya itu
sendiri yang mengalami perubahan begitu cepat.
Pada
sisi lain yang juga perlu diperhatikan adalah “kebrutalan” masyarakat
kita sekarang. Hampir di setiap unjuk rasa mereka melakukan
tindakan-tindakan destruktif bahkan cenderung brutal. Kondisi yang
demikian ini harus dihadapi para polisi muda dengan menahan perasaan
bergejolak di dada, tetapi karena atas nama profesional, harus berjuang
menahan diri sendiri, baik secara fisik maupun batin.
Pekerjaan
yang tersisa adalah bagaimana secara terus-menerus lembaga-lembaga yang
ada di masyarakat di samping memberi advokasi, tetapi jangan lupa juga
memberi edukasi. Unjuk rasa tidak dilarang, tetapi bagaimana cara yang
benar dalam berunjuk rasa, itu perlu disampaikan. Apa yang boleh
dilakukan, apa yang tidak boleh, kemudian aturan atau prosedur yang
harus dilalui sebelum berunjuk rasa juga perlu diberikan.
Mengutarakan
pendapat itu sangat dibolehkan dalam negara demokrasi sekalipun
pendapat itu berbeda. Akan tetapi, bagaimana cara menyampaikan pendapat,
itu juga lebih penting. Maksud baik, tapi disampaikan dengan cara dan
bahasa yang salah, hasilnya akan menjadi tidak baik. Apalagi jika
maksudnya memang sudah jelek, disampaikan dengan cara jelek, hasilnya
akan menjadi sangat jelek.
Repertoar
demokrasi harus jalan, tetapi simponinya akan menjadi enak didengar
jika semua pemain medengungkan alat musiknya sesuai dengan notasi
penuntun yang ada di partitur. Polisi adalah organ demokrasi yang urgen,
tapi polisi tetap manusia. Dia dapat saja berbuat salah, khilaf, dosa,
pahala, dan apa pun namanya yang melekat sebagai manusia. Kita semua
harus menyadari bagaimana beratnya tugas polisi dalam alam yang sedang
belajar berdemokrasi. Perubahan yang begitu cepat dan drastis serta
ekstrem itulah polisi ada di dalam pusarannya.
Sekali
lagi sebagai manusia yang dikaruniai oleh Tuhan sebagai insan yang
berpikir, adalah bijak jika kita memosisikan profesi apa pun, termasuk
polisi, pada kedudukan yang dimensional kemanusiaan. Dengan cara itu,
kita akan memiliki empati kepada semua insan yang tergelar di jagat raya
ini.
Artikel ini saya sandur dari: lampungpost
Irjen Pol M Tito Karnavian, Kapolda Papua Baru
Posted by Unknown
Posted on 21.49
with No comments
Potongan tubuhnya kecil, tapi jangan ragukan kemampuannya. Irjen Pol M
Tito Karnavian, mantan Kepala Densus 88 Polri itu mendapat tugas baru.
Dia akan menjadi kepala Kepolisian Daerah Papua, daerah yang rawan
konflik. Mampukah dia menuntaskan berbagai kekerasan bermotif separatis
di ujung timur Indonesia itu?
Berdasarkan Surat Telegram Rahasia
(STR) Kapolri tertanggal 3 September 2012, Mabes Polri melakukan mutasi
terhadap 58 perwira menengah dan tinggi. Selain jabatan Gubernur Akpol
Irjen Djoko Susilo
dan Wakakorlantas Polri Brigjen Didik Purnomo yang tersandung kasus
dugaan korupsi pengadaan simulator SIM, mutasi empat pimpinan kepolisian
daerah juga menarik perhatian.
Salah satunya adalah pergantian
Kapolda Papua Brigjen Bigman Lumban Tobing yang digeser menjadi Analis
Kebijakan Utama Pembinaan Pendidikan dan Latihan (Bindiklat) Lembaga
Pendidikan Polri (Lemdikpol). Posisi ini akan diisi oleh salah satu
'rising star' di tubuh Polri, Irjen Pol Tito Karnavian, mantan Kepala
Densus 88 yang kini menjabat Deputi Penindakan dan Peningkatan Kemampuan
Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
Jika dibandingkan
kapolda-kapolda seluruh Indonesia, Tito Karnavian adalah kapolda
termuda. Apalagi statusnya yang memimpin Polda Papua, wilayah yang
dikategorikan tipe A, yang berarti tingkat gangguan keamanannya tinggi
sehingga pejabat kapoldanya berpangkat inspektur jenderal alias bintang
dua.
Tito Karnavian merupakan lulusan Akpol tahun 1987. Dia lahir
di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964. Di umurnya yang 47
tahun, di angkatannya, dialah yang pertama menembus level bintang dua.
Dia mendapat kenaikan pangkat dari brigjen pada 22 Maret 2012 lalu.
Selepas
Akpol, karier Tito lebih banyak dihabiskan di bagian reserse dan
kemudian intelijen. Dia sempat mengenyam pendidikan di University of
Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang police
studies. Tito juga menyelesaikan pendidikan di Massey University
Auckland di Selandia Baru tahun 1998 dalam bidang strategic studies, dan
mengikuti pendidikan di Nanyang Technological University, Singapura,
tahun 2008 sebagai kandidat PhD juga dalam bidang strategic studies.
Nama
Tito mulai dikenal publik ketika tahun 2001, saat berhasil menangkap
Tommy Soeharto yang menjadi buron dalam kasus pembunuhan hakim agung
Syafiuddin Kartasasmita. Berpangkat komisaris ketika itu, dia memimpin
sebuah tim yang selama berbulan-bulan mengejar Tomy. Atas keberhasilan
tim tersebut menangkap Tommy, Kapolri Jenderal S Bimantoro menaikkan
pangkat semua anggota tim.
Jadilah Tito berpangkat ajun
komisaris besar polisi (AKBP). Umurnya baru 35 tahun ketika itu saat
menjadi perwira termuda yang menyandang dua melati di pundaknya.
Tahun
2004, ketika saat Densus 88 Antiteror dibentuk oleh Kapolda Metro Jaya
Irjen Firman Gani, Tito dipercaya menjadi perwira yang memimpin salah
satu tim yang terdiri dari 75 personel.
Puncak prestasinya adalah
mengungkap jaringan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang,
Jawa Timur, 9 November 2005. Di bawah pimpinannya, Densus 88 Antiteror
juga berhasil menangkap 19 dari 29 warga Poso yang masuk dalam DPO di
Kecamatan Poso Kota, 2 Januari 2007. Tito dan sejumlah perwira Polri
lainnya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang
yang terlibat di balik konflik tersebut. Tito dan timnya juga berhasil
melumpuhkan jaringan Noordin M Top dalam pengepungan teroris di Solo
pada 17 September 2009 yang menewaskan empat orang.
Tito mencapai
karier tertingginya di Densus 88 ketika memimpin detasemen itu sejak
November 2009 menggantikan Brigjen Pol Saud Usman Nasution. Selang
setahun, Tito digeser menjadi Deputi Penindakan dan Peningkatan
Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
Dengan
segudang pengalamannya di bidang intelijen dan penanganan terorisme,
kepemimpinannya di Polda Papua akan menjadi salah satu pembuktian
kemampuannya memimpin suatu wilayah. Jika sukses menangani masalah
keamanan di Papua yang selama ini terus bergolak, Tito bukan tidak
mungkin akan menjadi salah satu kandidat kapolri di masa datang.
Apalagi dengan tersandungnya Irjen Djoko Susilo
dan beberapa perwira senior yang awalnya diramalkan akan menjadi
kandidat kapolri, Tito bisa menjadi kuda hitam bagi para seniornya.
Cara Memilih Nama Blog
Posted by Unknown
Posted on 20.59
with 1 comment
Apalah arti sebuah nama, kutipan dari Shakespeare di Romeo and Juliet. Kebingungan dalam memilih nama blog bukan hal yang aneh saat kita akan membuat blog. Nah, saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang cara memilih nama blog yang bagus. Jika Anda punya keinginan untuk menjadikan blog terkenal, maka mulailah dengan memilih nama blog yang bagus.
Cara memilih nama blog yang bagus
- Nama blog harus dapat menggambarkan blog secara keseluruhan. Anda bisa bayangkan, hanya dengan membaca sebaris kata, pembaca bisa mengerti blog tersebut tentang apa. Potensi terbesar orang akan mengunjungi blog melalui search engine adalah dengan memperhatikan nama blog yang paling relevan dengan artikel yang dicarinya.
- Buatlah nama blog yang mudah diingat. Agar mudah diingat, buatlah nama blog yang pendek dan jangan pula terlalu panjang. Nama blog cukup satu kata saja atau dua kata. Jika terlalu panjang akan sulit untuk diingat. Contoh kasus dapat Anda lihat pada beberapa blog yang sudah terkenal di Indonesia. Mereka membuat nama blog yang sederhana namun sangat mudah diingat.
- Jangan terlalu banyak modifikasi ejaan. Perhatikan huruf, numerik dan penggunaan notasi-notasi yang tidak perlu. Jangan menggunakan kombinasi huruf dan angka yang membuat bingung pengunjung blog. Mungkin Anda pernah menemukan bog dengan nama yang ada kombinasi huruf, angka, simbol atau notasi-notasi tertentu. Wow, sangat kacau dan tidak baik bagi mesin cari seperti google. Tapi ini menurutku lo. Bukan bermaksud apa-apa.
- Nama blog harus sama dengan nama domain. Banyak saya temui nama domain blog yang sangat berbeda dengan nama blog. Kelihatannya saja sepele, namun nama domain yang sama dengan nama blog akan sangat berarti dalam optimasi mesin cari. Nama blog bisa saja berbeda dengan domain blog namun usahakan masih mirip dan mendekati.
- Nama blog harus unik. Misalnya membuat nama blog seperti judul film atau hal-hal yang kontroversial. Saya yakin keunikan ini akan menjadi satu daya tarik tertentu bagi pengunjung. Unik bisa juga berupa nama yang lucu atau seram dan mengerikan. Terserah saja, pokoknya beda dari yang lain.
- Sisipkan keyword pada nama blog yang menjadi keyword pencarian blog Anda. Tips ini sangat bermanfaat bagi blog yang menargetkan pasar tertentu. Apalagi blog bisnis, maka penyisipan keyword pada nama blog sangat penting. Tujuannya adalah mengpotimalkan search engine pencarian blog Anda melaui keyword tertentu yang sudah Anda targetkan.
- Nama blog jangan terlalu umum dan jangan pula terlalu menargetkan niche tertentu. Ada untung dan ruginya jika memilih nama yang terlalu umum. Anda akan sangat mudah mencari konten berita untuk blog jika blog Anda memilih topik yang umum namun tidak fokus pada topik tertentu akan membuat pengunjung tidak betah berada di blog Anda. Memilih nama blog dengan topik yang lebih khusus akan lebih baik, namun akan perlu dipertimbangkan siapa yang menjadi target pembaca blog tersebut. Jangan pula nantinya pembaca blog kita malah hanya sedikit karena topik yang terlalu sempit. Anda dapat menggunakan layanan google trend untuk menganalisa nama blog yang akan anda pilih.
Masih banyak cara memilih nama blog yang bagus. Cara tersebut tidak mutlak harus demikian dan Anda bisa pilih mana yang cocok dan sesuai dengan tipe dan karakter blog Anda. Jika Anda punya pendapat lain yang bisa dibagikan, saya sangat berterimakasih. Salam hangat dan happy blogging for all.
1 Juli 1946
Posted by Unknown
Posted on 18.18
with No comments
Hai! Apa kabar rekan-rekan semua?
Kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai makna 1 Juli 1946 bagi Polisi.
Setiap tanggal 1 Juli, banyak sekali yang mengucapkan, "Selamat ulang tahun pak polici…"
Nah loh!
Kalau ulang tahun itu 'kan artinya sebelum tanggal 1 Juli 1946 Polisi belum ada?
Padahal sosok Polisi sudah ada sejak jaman kerajaan. Polisi jaman kerajaan diistilahkan dengan Jogoboyo atau Bhayangkari, penjaga dari segala marabahaya yang mengancam kerajaan.
Naaaaahhh…
Sekarang ijinkan saya meluruskan, sebenarnya apa yang terjadi pada tanggal 1 Juli 1946.
Jadi begini nih urutan ceritanya…
Tanggal 17 Agustus 1945, bung Karno dengan nyali naga memproklamirkan KEMERDEKAAN bangsa ini di tengah-tengah situasi yang sebenarnya belum kondusif benar untuk merdeka.
Tanggal 18 Agustus 1945, bangsa Indonesia memiliki Undang-undang Dasar.
Pada tanggal 19 Agustus 1945 dalam sidang PPKI menyatakan bahwa, Polisi ditarik ke dalam Kementrian Dalam Negeri, membentuk suatu dinas tersendiri. Dikatakan bahwa Polisi hanya bekerja dalam hal "administrasi" saja, dan tidak mempunyai "rentang komando" ke polisi-polisi di daerah. Polisi di daerah di bawah kendali pemerintah propinsi dan pemerintah daerah (seperti Sat Pol PP saat ini).
Tanggal 29 September 1945 Jenderal Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo dilantik sebagai sebagai KKN (Kepala Kepolisian Negara) pertama, dan diberi tugas untuk membentuk organisasi polisi, menyesuaikan struktur pemerintahan Indonesia yang baru lahir.
Pada tanggal 1 Oktober 1945 polisi ditarik juga di bawah Kejaksaan Agung juga, mengingat polisi adalah salah satu elemen CJS (Criminal Justice System).
Namun hal ini tidak bertahan lama, pak Soekanto sangat kewalahan menerapkan kebijakan kepolisian secara nasional sampai ke polisi di pelosok Indonesia, mengingat tidak dimilikinya rentang komando ke wilayah. Oleh karena itu, pemerintah memahami ini akhirnya pada tanggal 1 Juli 1946, Polisi dikeluarkan dari Kementrian Dalam Negeri, membentuk jawatan sendiri, langsung di bawah Perdana Menteri (Keputusan Perdana Menteri No. 86/P.M./II, tanggal 29 Juni 1945).
Pada tanggal 1 Juli 1946 inilah akhirnya Polisi bisa bernafas bebas, dia bisa membentuk karakternya sendiri. Organisasi Kepolisian setara dengan Kementrian, dan KKN/Kapolri setara dengan Menteri. Dengan memiliki jawatan sendiri, organisasi Kepolisian memiliki rentang komando ke bawah secara nasional.
Rentang komando itu artinya begini… Saat Kapolri membuat kebijakan, "Fokus kerja kita kali ini adalah mengamankan masyarakat yang akan melakukan Mudik dan kembali ke domisili awal! Tekan angka kecelakaan lalu lintas! Kita beri nama operasi ini dengan sandi Operasi Ketupat!" Maka Mabes Polri akan menggelindingkan kebijakan tersebut ke 33 Polda di seluruh Indonesia, dan diteruskan kepada masing-masing Polres jajarannya, dan sampai kepada tingkat Polsek, unit ujung tombak kepolisian. Akhirnya pekerjaan polisi menjadi seragam di seluruh Republik Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, mengamankan arus mudik dan arus balik saat hari raya Idul Fitri.
Selain itu juga, tekanan politis yang berada di dalam kementrian/departemen bisa dijauhkan dari Polisi, sebab Polisi di belahan dunia manapun dituntut untuk netral, karena dia berada di tengah-tengah, di antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat alias selalu dalam posisi kejepits, seperti saat ini.
Begitulah sejarah singkat, mengapa tanggal 1 Juli 1946 menjadi bersejarah bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jadi ucapan ulang tahun atau dirgahayu menurut saya kurang tepat, yang tepat adalah cukup "Selamat Hari Bhayangkara".
Jangan kaget kalau praktek di lapangan, Polisi sendiripun masih latah menggunakan kata HUT di spanduk, atau kata-kata sambutannya, karena belum semua Polisi tahu akan sejarahnya. Saya bisa paham masalah ini, sebab……..… tanggal 5 Juli kemarin, saya baru saja ujian Sejarah Kepolisian.. Hahahahaha…:-D
Semoga bermanfaat yah rekan-rekan…
SUMBER: disandur dari berbagai sumber
KUSNI KASDUT, PENJAHAT LEGENDARIS INDONESIA
Posted by Unknown
Posted on 17.38
with No comments
Siapa yang tidak mengenal tokoh ini pada era 70 an, salah satu pejahat Legendaris, tertangkap dan di vonis hukuman mati atas segala perbuatannya…. Namun pada saat – saat akhir hayat nya ia bertobat dan dengan “tegar” menghadapi hukumannya.
Dalam keterasingannya di penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintai, ternyata sisi agamis Kusni Kasdut tumbuh semakin dalam. Apalagi ketika dia di penjara dan sebelum dieksekusi mati, dia sempat berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik.
Setelah berkenalan dengan pemuka agama tersebut, akhirnya dia memutuskan menjadi pengikut setia. Kusni Kasdut dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.
Saat menunggu hari eksekusi, dia menuangkan rasa cintanya terhadap agama yang telah dia anut dalam sebuah lukisan yang terbuat dari gedebog pohon pisang. Dalam lukisan tersebut, tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gerja Katederal Jakarta.
lukisan Kusni Kasdut yang terbuat dari gedebok Pisang, dan masih tersimpan di Kathederal Jakarta
“Setelah lukisan gedebog pisang itu jadi, sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral, Jakarta. Beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati,” ujar pengurus Museum Katedral, Jakarta, Eduardus Suwito.
Saya mendapat tulisan mengenai saat – saat akhir hayatnya pada saat mau menghadapi regu tembak :
Keinginannya terakhir hanya ia mau duduk di tengah keluarganya.
Itu terpenuhi. Sembilan jam sebelum diantar pergi oleh tim
eksekutor, di ruang kebaktian Katolik di LP Kalisosok Kusni
Kasdut dikelilingi keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik
dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami
Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuannya yang
terakhir-dengan capcai, mi dan ayam goreng. Tapi rupanya hanya
orang yang menjelang mati itu yang dengan nikmat makan.
Kusni, kemudian, memeluk Ninik. “Saya sebenarnya sudah tobat
total sejak 1976,” katanya, seperti direkam seorang
pendengarnya. “Situasilah yang membuat ayah jadi begini.
Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada
Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek. Ninik dan yang lain
menangis. “Diamlah,” lanjut ayahnya, “Ninik ‘kan sudah tahu,
ayah sudah pasrah. Ayah yakin Tuhan sudah menyediakan tempat
bagi ayah. Maafkanlah ayah.” Kedua cucunya, Eka dan Vera, mulai
mengantuk.
Fact about Kusni Kasdut
Pada masanya Kusni kasdut adalah penjahat spesialis “barang antik” salah satunya yang paling spektakuler ia merampok Museum Nasional Jakarta. Dengan menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi (yang tentunya palsu), dia pada tanggal 31 Mei 1961 masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah. Setelah melukai penjaga dia membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.
Pada masanya Kusni kasdut adalah penjahat spesialis “barang antik” salah satunya yang paling spektakuler ia merampok Museum Nasional Jakarta. Dengan menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi (yang tentunya palsu), dia pada tanggal 31 Mei 1961 masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah. Setelah melukai penjaga dia membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.
Pernah membunuh dan merampok seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened pada 1960-an. Kusni Kasdut dalam aksinya ditemani oleh Bir Ali. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan, Awab Alhajiri. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembak dari jeep yang dibawa oleh Kusni Kasdut.
Saat-saat terakhir Kusni Kasdut ini dijadikan ide untuk lagunya God Bless “Selamat Pagi Indonesia” di album “Cermin”. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas yg jagoan menulis lirik lagu.
Awalnya Kusni kasdut adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
SUDARTO adalah penasehat hukum Kusni Kasdut mengatakan dalam pembelaanya : ”Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang,” dan ”Nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman”.
Kusni Kasdut pada saat sedang menunggu keputusan atas permohonan grasinya sempat melarikan diri kemudian dapat ditangkap kembali dan akhirnya menjalankan pidana matinya.
Kusni Kasdut sempat dijuluki “Robin Hood” Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi – bagikan kepada kaum miskin.
Tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil (sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan). Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir, ia tewas dalam tembak menembak dengan polisi.
Ia menjalani hukuman matinya didepan regu tembak pada 16 Februari 1980.
Sumber : dari berbagai sumber
SKENARIO PEMERDEKAAN PAPUA
Posted by Unknown
Posted on 17.17
with No comments
Melihat peristiwa yang marak terjadi di Papua beberapa waktu belakangan ini, sungguh miris terjadi penembakan gelap dimana – mana, awalnya yang menjadi sasaran adalah para karyawan PT Freeport Timika yang hendak berangkat bekerja, kemudian penembakan ini merambah ke sasaran yang berada di kota jayapura dan sorong, dimana 4 orang tewas ditembak yaitu 3 warga dan 1 personil TNI di Abepura Jayapura dan yang paling heboh di dunia Internasional adalah penembakan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal di lokasi wisata Pantai Base kota Jayapura dengan korban Pieter Dietmar Helmut warganegara Jerman. Saya duga masih akan masih banyak lagi aksi – aksi pengacauan keamanan setelah ini dan ekskalasinya pasti akan meningkat.
Yes, apa yang terjadi di Papua adalah skenario yang mengarah kepada “pemerdekaan”, skenario ini adalah memang dirancang, direkayasa untuk internasionalisasi masalah papua sebagai tahap awal untuk memerdekakan papua. Sebagai mantan peacekeeper di beberapa negara yang wilayahnya ingin merdeka, saya rasanya tahu bagaimana cara – cara mereka untuk membawa sebuah negara ke arah merdeka.
Patut diketahui bahwa cara – cara mengganti pemerintahan otoriter yang terjadi di beberapa negara jazirah arab berbeda dengan cara sebuah daerah memerdekakan diri, isyu paling fundamental adalah bagi daerah yang mau merdeka adalah perbedaan etnis atau kaum minoritas yang tidak diperlakukan adil oleh pemerintah pusat, berbeda dengan pemberontakan yang mau mengganti pemerintah; adalah rakyat mempunyai “common enemy” makanya mereka menggulingkan pemerintah dengan “people power”.
Saat ini beberapa hotspot dimana sebagian warganya meninta merdeka adalah: Gerakan Basque di Perancis, Kaum tamil di Srilangka, Darfur di Sudan. Beberapa daerah telah berhasil perjuangannya dan menjadi negara baru seperti Kosovo dan Sudan Selatan. Indonesia sendiri pernah mengalami pisahnya Timor timur menjadi negara sendiri.
Berikut ini adalah perkiraan saya (pribadi) tentang beberapa metoda / skenario yang akan digunakan Organisasi Papua Merdeka dalam memperjuangkan kemerdekaannya:
1. Gerakan ini akan mengintensifkan “teror” khususnya bagi pendatang non papua, “penembakan gelap” akan digiatkan, mereka ingin agar ada rasa tidak aman pada kehidupan sehari – hari masyarakat papua, keadaan tidak aman ini akan melumpuhkan aspek penghidupan masyarakat papua, terutama pada perekonomian dan roda pemerintahan, kalau dua aspek ini tidak berjalan akan ada ketidak – percayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat keamanan. Sehingga masyarakat akan mendapat kesan bahwa OPM akan lebihcare terhadap mereka dalam menjamin keamanan.
2. Mencoba meng-internasionalisasi permasalahan di Papua, gerakan OPM akan secara taktis membawa permasalahan ini ke dunia internasional, dengan era “keterbukaan informasi” sekarang ini akan mudah bagi mereka untuk mengangkat isu internal dalam negeri menjadi isu internasional, yang paling laku dijual adalah isu Human Rights/HAM, Genosida, ketidakadilan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Cara yang bisa dicapai adalah dengan “mengorbankan” penduduk asli papua sendiri, gerakan ini akan “membenturkan” masyarakat dengan aparat keamanan, contoh pada saat demonstrasi massa mereka akan berbuat sesuatu sehingga terjadi bentrokan massa dengan aparat keamanan, sehingga jatuh korban massa, nah hal inilah yang bisa “dipelintir” dan diangkat ke dunia internasional bahwa terjadi “pembantaian etnis”, ini bisa mencoreng Indonesia sebagai negara yang tidak melindungi warganya. Penembakan terhadap warga negara asing juga bisa membawa hal ini ke dunia Internasional, sebelumnya sudah ada WN. Australia dan AS yang tewas di papua akibat penembakan gelap.
Dari ketiga upaya ini akan mengerucut menjadi satu, seperti yang pernah kita alami di Timor Leste, yaitu adanya Desakan dari dunia Internasional agar ada “Campur tangan” negara di luar Indonesia untuk pada awalnya “Menyelesaikan” Permasalahan yang terjadi PBB akan turut campur dan pada awalnya akan mengirimkan “Observer” untuk melihat ke wilayah apa yang terjadi sesungguhnya. Hal ini akan sangat berbahaya karena rekomendasi observer ini adalah pasti kehadiran “Misi Perdamaian” untuk melihat aspirasi warga papua, dan hasilnya mudah ditebak , pasti Referendum menentukan nasib sendiri. Yang hasilnya pasti sudah tau kan ? pasti hasilnya merdeka.
Jadi bagaimana agar kita tidak kehilangan kedua kalinya wilayah kita setelah Timor Leste ? ini pendapat saya:
1. Untuk zaman sekarang dimana kebebasan media sudah sangat terbuka, kita tidak perlu mencegah kampanye buruk dari pihak OPM tentang apa yang disebut “Kolonialisme” Indonesia atas Papua, justru kita harus melakukan kampanye positif tentang apa yang telah kita lakukan di bumi Papua.
2. Kesejahteraan , ya itu kata kuncinya. Sejahterakan masyarakat papua, buat pendidikan yang baik dan dengan mereka sejahtera mereka akan merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia. Biarkan rakyat papua mempunyai kedaulatan di wilayahnya sendiri.
3. Rangkul kembali pihak OPM untuk menjadi bagian bersama dalam pembangunan di Papua. Tidak semua warga papua hendak memerdekakan diri. Masyarakat papua lebih bersifat kesukuan jadi tidak ada yang lebih dominan dari yang lain.
4. Untuk aparat keamanan kurangi kekerasan yang tidak perlu, karena ini merupakan alat OPM untuk mengangkat permasalahan ini ke dunia Internasional.
Demikian akhir tulisan saya, saya rasa kita pernah punya contoh bagaimana kasus Timor Leste dan Aceh, gunakan cara – cara seperti di Aceh adalah cara terbaik untuk dilakukan yaitu penyelesaian tetapi tetap dalam kerangka NKRI, bagaimana caranya ? silahkan para pimpinan negara ini memikirkan jalan yang terbaik.
nilai proyek ekspansi train 3 Tangguh, yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, mencapai 12 miliar dollar AS
Posted by Unknown
Posted on 00.04
with No comments
Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi mencatat, nilai proyek ekspansi train 3 Tangguh, yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, mencapai 12 miliar dollar AS.Untuk itu ini BP Indonesia selaku operator proyek Tangguh berencana mengajukan revisi rencana pengembangan kepada badan pelaksana tersebut pada Agustus ini. Demikian disampaikan Deputi Pengendali Operasi BP Migas Gde Pradnyana, Kamis (2/8/2012), saat ditemui di Kantor BP Migas, Jakarta.
Jadi, para investor harus membuka lapangan kerja baru, turut mengentaskan kemiskinan, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan mengendepankan aspek kelestarian lingkungan dalam pengelolaan migas di Tanah Air.
Gde Pradnyana mengemukakan, BP Indonesia berencana mengeluarkan investasi sekitar 12 miliar dollar AS untuk pembangunan proyek train 3 Tangguh, meliputi pembangunan konstruksi train (unit kilang) 3, anjungan, dan jaringan pipa gas.
"Mereka berjanji akan mengajukan revisi rencana pengembangan proyek Tangguh pada minggu ini," ujarnya. Dalam paket pengembangan proyek itu, lanjut Gde, pihaknya meminta jaminan pengembangan di kawasan Bintuni.
Jadi, selain komitmen investasi dalam proyek train 3 itu, BP Indonesia harus berkomitmen untuk ikut mengembangkan kawasan Teluk Bintuni dan Papua Barat, baik berupa penambahan pasokan gas maupun tenaga listrik.
"Itu merupakan aspirasi dari pemda. Kami akan segera memproses revisi rencana pengembangan itu begitu disampaikan kepada kami. Proses kajiannya paling lama satu bulan, Jadi kami menargetkan proyek ekspansi train 3 Tangguh itu bisa mulai dikerjakan tahun 2013," ujarnya.
Sumber: kompas.com
Kapolda kesulitan untuk menjamin tidak terulangnya kembali konflik di Kwamki Lama, Mimika, Papua
Posted by Unknown
Posted on 21.44
with No comments
Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Polisi BL Tobing mengakui, polisi
saat ini mengalami kesulitan untuk menjamin tidak terulangnya kembali
konflik di Kwamki Lama, Kabupaten Mimika, Papua.
"Polri mengalami kesulitan untuk bisa menjamin tidak terulangnya pertikaian atau konflik yang terjadi di kawasan Kwamki Lama karena apa yang mereka katakan berbeda dengan kenyataan," kata Kapolda Papua menjawab pertanyaan seusai buka puasa bersama di Mapolda Papua, di Jayapura, Rabu (1/8).
Karena itulah, ia menambahkan, berapa pun banyak pasukan ditempatkan tidak dapat menjamin tidak terjadinya konflik yang sudah menewaskan warga dari kedua kelompok yang bertikai serta melukai ratusan orang tersebut.
Menurut dia, seharusnya situasi itu disikapi secara serius oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sebab, mereka yang bertikai itu bukan penduduk asli Kwamki Lama, melainkan pengungsi dari Kabupaten Puncak.
"Polisi saat ini hanya menjadi pemadam kebakaran. Saya berharap kasus tersebut segera ditangani oleh semua pihak," katanya.
Wakil Bupati Mimika Abdul Muis sebelumnya mengakui, pihaknya pun kesulitan menghadapi para warga yang merupakan pengungsi dari Kabupaten Puncak, karena apa yang mereka lakukan sudah meresahkan.
"Kami sangat berharap Pemkab Puncak segera memulangkan warganya yang mengungsi di Kwamki Lama, sehingga tidak meresahkan warga lainnya," kata Muis.
Pemda Mimika sudah berupaya mendamaikan kedua kelompok yakni Kampung Harapan (atas) dan Kampung Amole (bawah) dengan melakukan prosesi adat, yakni patah panah yang disertai bakar batu. Bahkan, prosesi itu sudah berlangsung dua kali, namun konflik masih terulang kembali hingga kini.
Kasus pertikaian yang terjadi sejak 23 Mei lalu itu berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan warga Kampung Harapan, hingga mereka menuntut dan bahkan mengajak perang Kampung Amole.(Ant/BEY)
Sumber: www.metrotvnews.com
"Polri mengalami kesulitan untuk bisa menjamin tidak terulangnya pertikaian atau konflik yang terjadi di kawasan Kwamki Lama karena apa yang mereka katakan berbeda dengan kenyataan," kata Kapolda Papua menjawab pertanyaan seusai buka puasa bersama di Mapolda Papua, di Jayapura, Rabu (1/8).
Karena itulah, ia menambahkan, berapa pun banyak pasukan ditempatkan tidak dapat menjamin tidak terjadinya konflik yang sudah menewaskan warga dari kedua kelompok yang bertikai serta melukai ratusan orang tersebut.
Menurut dia, seharusnya situasi itu disikapi secara serius oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sebab, mereka yang bertikai itu bukan penduduk asli Kwamki Lama, melainkan pengungsi dari Kabupaten Puncak.
"Polisi saat ini hanya menjadi pemadam kebakaran. Saya berharap kasus tersebut segera ditangani oleh semua pihak," katanya.
Wakil Bupati Mimika Abdul Muis sebelumnya mengakui, pihaknya pun kesulitan menghadapi para warga yang merupakan pengungsi dari Kabupaten Puncak, karena apa yang mereka lakukan sudah meresahkan.
"Kami sangat berharap Pemkab Puncak segera memulangkan warganya yang mengungsi di Kwamki Lama, sehingga tidak meresahkan warga lainnya," kata Muis.
Pemda Mimika sudah berupaya mendamaikan kedua kelompok yakni Kampung Harapan (atas) dan Kampung Amole (bawah) dengan melakukan prosesi adat, yakni patah panah yang disertai bakar batu. Bahkan, prosesi itu sudah berlangsung dua kali, namun konflik masih terulang kembali hingga kini.
Kasus pertikaian yang terjadi sejak 23 Mei lalu itu berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan warga Kampung Harapan, hingga mereka menuntut dan bahkan mengajak perang Kampung Amole.(Ant/BEY)
Sumber: www.metrotvnews.com













